longest night
Malam ini masih terasa panas. Mendung yang menggantung masih tak mau beranjak dari langit Jakarta. Warnanya yang hitam kini berubah menjadi putih bersemu orenj disapu kegelapan malam. Rokok kretek yang tinggal seruas jari masih kuhisap dalam dalam dan kukepulkan asapnya memenuhi kamar kecilku yang pengap. Kopi torajaku tinggal tersisa ampasnya hingga enggan ku meminumnya. Dua ekor nyamuk bersliweran masih menunggu kesempatan untuk menghisap darah untuk sekedar sisa menambah hidup mereka yang tinggal menunggu mati dicabut malaikat pencabut nyawa melalui tanganku. Entah mengapa, sang kantuk masih enggan menemaniku malam ini. Kasur tak bersprei tempatku berbaring semakin menambah rasa tak nyamanku kali ini. Aku ingin tidur Tuhan, aku sudah cukup lelah hari ini…rokokku juga sudah kujejalkan dalam asbak yang semakin penuh itu.
Kembali kucoba pejamkan mataku. Kubiarkan semua mengambang. Kucoba untuk diam, membayangkan sebuah lubang hitam yang semakin menyedotku ke dalam rongga rongga mimpi. Tapi otakku terus berproses dan hatiku masih merasa. Otakku masih tak mau istirahat dan membiarkan hati nuraniku bermimpi. Seperti tak mengerti penatnya badan ini, pikiranku malah terbang melewati birunya lautan. Di bibir pantai kulihat bocah bocah itu bercanda dengan buih buih ombak. Nyiur nyiur hijau yang tingginya tak seberapa itu melambai seolah menyoraki anak dengan wajah acuh mereka. Jauh disudut sana sebuah keluarga tengah bahu membahu menganyam jaring yang sedikit sobek di keempat ujungnya. Layaknya jaring kehidupan yang memberi mereka makan, dengan teliti mereka memperbaiki jaring itu. Sang ibu dengan telaten mengajari putrinya cara untuk memperbaiki jaring itu. Sementara si bapak dengan kelelakiannya yang khas terlalu sibuk dan terlalu lelah untuk memperhatikan pekerjaan putrinya.
Ketika horison yang mengagumkan itu membuat mataku memandang, tampak perahu perahu nelayan saling menyendiri di ufuk barat ketika sang kala mulai menampakkan merahnya. Kudekati hingga riak ombak tinggal sejengkal dari tempatku berdiri. Si nelayan dengan telanjang dada masih sibuk mengulur senar pancingnya yang sudah terlihat usang. Kulitnya legam mengkilat diterpa sapuan sinar sang senja. Sementara nelayan satunya sibuk menata tempat mereka menyimpan ikan. Es es yang tinggal sedikit itu mungkin tak cukup untuk membuat ikan ikan itu segar hingga ke tangan pembeli. Pikiranku menerawang ke dalam mata mereka yang berkata hari ini tangkapan mereka terlalu sedikit. Ikan ikan sudah tak sudi tertipu dengan cara mereka yang kuno. Ikan hanya tertarik pada pukat yang tak mampu mereka beli. Ikan hanya mau mendekat kepada kapal kapal besar milik perusahaan besar yang bisa berlayar seenak hati dengan bahan bakar yang cukup dan mampu menjamah laut dalam. Ikan pun juga mulai melirik kapal kapal asing ilegal yang mendapatkan tempat dalam longgarnya pengawasan di dunia bahari Indonesia. Nelayan itu tampaknya tak akan kembali dengan membawa keuntungan di tangan. Utang mereka untuk membeli solar yang semakin tinggi harganya tak akan bisa ditutupi dengan harga ikan mereka yang dihargai sangat murah. Nelayan itu tertunduk. Berusaha berpikir bagaimana dia harus menjelaskan itu semua kepada anak istrinya. Mereka sudah tak ingin penjelasan, karena penjelasan tak pernah membuat mereka kenyang.
Seiring detik yang tanpa pernah lelah berlari dan menit yang berjalan, matahari dengan kepastian prosesnya menjamah bagian dunia lain untuk dia sinari. Beriringan dengan datangnya bantuan sang bulan air laut mulai menutupi sebagian pantai tempat anak anak tadi bermain. Tangan sang ibu menggamit mesra anak anak tadi mengajak mereka ke rumah sederhana mereka. Sang bapak masih terpekur didepan rumah itu . Di sela sela lubang jaring terlihat mata sang bapak nanar menatap laut dengan sebatang rokok kretek di tangan. Hembusan angin laut menyapu kencang asap yang sedari tadi dikepulkan dari mulut kasarnya. Di belakang rumah,ibu itu dengan telaten memandikan anaknya di tepi sumur kecil yang dalam itu. Dengan sedikit semen jadilah sebuah tempat pemandian terbuka yang cukup bagi keluarga itu. Masih saling bergelut dan bercanda layaknya anak kucing yang lagi giat giatnya belajar berburu,anak anak itu menuju meja makan yang telah disiapkan dewi bernama sang ibu. Sang bapak menggenggam tangan kedua anak di sampingnya dan mulai berdoa dan bersyukur untuk makanan yang telah mereka dapatkan hari itu. Meski hanya terdiri dari beberapa buah ikan goreng hasil pancingan sang bapak dan nasi seadanya mereka tampak sangat menikmati jamuan malam itu. Mulut si anak tak henti hentinya berceloteh tentang impiannya untuk menggapai bulan dan terbang, sementara anak lainnya menimpali dengan keinginannya untuk berkeliling melihat kota dengan segala kemewahannya. Persis seperti yang diceritakan oleh angin laut yang berhembus dan burung camar yang setia menunggu ikan di bibir pantai itu. Sang bapak hanya terdiam, sang ibu hanya tersenyum. Mereka sadar, impian itu bukan milik mereka yang terabaikan.
Di luar, sang bulan sedang bersenang hati tampaknya. Bentuknya bulat penuh. Meski penuh luka di mukanya dia tetap mampu memberikan sedikit pijar untukku melihat. Kelap kelip lampu petromaks dari perahu perahu yang masih bersiteguh melawan nasib terlihat sangat indah dengan kontrasnya yang membisu. Pemandangan dari perjuangan seorang nelayan untuk menghidupi keluarganya di tengah samudera kehidupan yang semakin tidak bersahabat. Pemandangan dari anak cucu bangsa bahari yang masih tetap tegak menantang meski ia tahu tak ada lagi yang peduli terhadap dia.
Lamunanku sejenak terhenti. Seekor nyamuk berhasil mengecap sedikit darah segarku. Dengan jarum lancip yang selalu sabar menanti kelengahanku itu, sang nyamuk berhasil sedikit demi sedikit membuat kulit ariku mengembung sebesar kuku jari kelingkingku. Gatal sedikit kurasakan. Namun tak segatal emosiku untuk berontak. Tak segatal tanganku untuk mengepal melawan. Tak segatal lidah di mulutku untuk menyumpah dan berteriak. Kerutan kerutan di dahiku kembali mengeras. Kucoba untuk melenyapkan semua bayangan tentang kenyataan dari sebuah bangsa bernama Indonesia ini. Tapi tak pernah bisa. Marahku terus mempengaruhi untuk berpikir.
Pikiranku kini mengajakku untuk berjalan. Dia bilang bumi ini terlalu indah untuk tidak kujejak. Kutapakkan kakiku di jalan yang kelihatannya belum jadi itu. Kerikil kerikil tajam itu menyelip di antara rongga rongga jari kakiku yang telanjang. Suara jangkrik jantan satu dua kali terdengar, sepertinya tidak terlalu menarik minat sang betina. Burung malam berkoar koar sambil terus memicingkan mata mereka dan terus mengintai makanan yang mereka harapkan malam itu. Codot codot tampak menyeringai sambil terus mengerat buah buah yang mereka temukan. Mata mata kucing yang sedang berburu tikus itu terlihat bersinar disapu cahaya bulan yang tampak diantara rerimbunan daun daun. Entah berapa lama aku berjalan, kini kaki telanjangku mulai menapak jalan yang beraspal.
Di jalanan kota yang gaduh itu mataku terpaku melihat mewahnya sisi lain dari Indonesia ini. Kereta besi yang mengkilat dan mengagumkan banyak menusuk pandanganku. Mata yang sombong dan tubuh yang kekar dari mobil mobil itu seolah menggambarkan betapa kota adalah sesuatu yang megah dan anggun. Gedung gedung tinggi dengan lampu lampu yang terang seolah siap mengintimidasi siapapun yang melihatnya. Kakinya yang teguh seperti siap menginjak siapapun yang tak kuat dengan kehadirannya. Tapi sepertinya ada yang aneh bagiku. Di sisi gedung gedung itu kutemui banyak bekas bekas kardus yang sepertinya terisi sesuatu. Kucoba longokkan kepala untuk melihat apa yang ada di dalamnya. Ternyata manusia kecil dengan pipi yang montok sedang terlelap dengan wajah tanpa dosanya sambil tersenyum. Di sampingnya tampak anak perempuan yang terlihat lebih tua sedang mengipas ngipasi si kecil dan melindunginya dari nyamuk yang tak penah kenal usia buruannya. Di sudut ruangan itu tampak sobekan foto yang kusam. Di foto itu terlihat seorang ayah dan ibu sedang memeluk mereka berdua yang masih sangat kecil. Dengan latar belakang rumah beralas tegel kuno , rumah di foto itu tampak terlalu baik dibandingkan tempat mereka sekarang. Alas kardus bekas yang melapisi tanah yang keras itu terasa terlalu dingin untuk si kecil yang masih butuh kehangatan. Selimut yang sudah bolong bolong itu pun tak akan cukup untuk mereka berdua. Ruang itu terlalu kecil untuk mereka berdua. Ruang itu terlalu pengap untuk mereka. Ruang itu tak layak untuk mereka. Disisi kardus bertiang itu masih banyak ratusan bahkan ribuan lagi yang lain. Semua sama. Sejengkal tanah yang mereka tutupi agar mereka terlindung dari dinginnya malam dan panasnya matahari kala siang. Hanya itu. Ternyata kemegahan kota mempunyai ironi. Ironi dari sebuah pemandangan yang kontras di balik kemegahan gedung gedung pencakar langit dan kemewahan kota yang lain, tersimpan rapat sebuah kenyataan dari kemiskinan dan kebodohan yang hanya dipunyai oleh mereka yang tersingkirkan.
Pikiranku gontai. Tak kusangka bayangan keindahan tentang dunia akan segera dinegasikan oleh kenyataan yang mengiris hatiku. Kembali kuseret pandanganku mencoba mencari keindahan. Ketika mataku berkeliling, pandanganku malah tertumbuk pada seorang anak kecil yang sedang menghitung uang recehan. Matanya menerawang jauh, melihat sekitarnya yang semakin megah. Kakinya telanjang, kaosnya pun seperti tak pernah dicuci. Sebuah gitar kecil yang tak jelas fred dan nadanya itu masih dia peluk dan dia usap dengan tangan tangan yang dekil itu. Dia tertunduk. Matanya melihat sampul bumi terluar yang dia rasa semakin kejam. Bayangan sekolah yang dulu ia tinggalkan menyeruak di dinding kepalanya. Keasyikannya bermain gundu dan layangan kini tergantikan dengan kewajibannya mencari sesuap nasi di belantara kota ini. Dulu, dia bermain bola di pekarangan desanya, berharap akan bisa meniru pemain bola yang biasa dia lihat di tivi. Kini, ia bermain main di aspal jalan raya dengan menenteng gitar yang tak berbentuk gitar itu berharap orang lain mau mengasihaninya. Dulu, ia menghitung angka untuk diperiksa oleh bu guru yang cantik dan sabar. Kini ia menghitung receh, yang nantinya diperiksa dan diambil sebagian besar yang dia dapat oleh penguasa perempatan lampu merah yang kejam itu.
Di sampingnya duduk bersimpuh seorang ibu menggendong anak dengan jaritnya yang mulai kusam. Di tangannya tergenggam bekas bungkus permen yang juga berisi recehan. Dia dengan setia menunggu lampu merah menyala dan kemudian menggerakkan kedua kakinya menuju kaca kaca mobil itu dengan menengadahkan tangan meminta belas kasihan. Ibu itu masih terlihat terlalu muda untuk menjadi ibu. Ibu itu masih terlihat terlalu kuat untuk sekedar mengemis dan membawa anaknya melewati siang yang membakar tanpa ampun dan hembusan angin malam tak menusuk tulang di tengah kepulan asap mobil yang tak mengenal kamus berhemat. Di tengah kuda besi yang setiap harinya mengangkut jutaan kursi kosong itu berjalan gontai orang orang yang berusaha untuk tetap bertahan. Kudengar negeri ini negeri yang kaya. Negeri yang penuh tanah yang subur, alam yang indah, dan bumi yang kaya. Tapi kenapa mereka mengemis? Meminta recehan sampai sampai harus membawa anak mereka yang masih kecil, entah untuk menjadikan orang lebih kasihan atau mereka memang tak punya perlindungan. Apakah penyakit bernama kemalasan sudah sebegitu parahnya, atau memang mereka tak pernah diberi kesempatan untuk menjadi tidak malas? Apa mereka memang sudah tergusur dengan bangunan kehidupan bernama kesenjangan? Bangsa ini tak layak menjadi pengemis Tuhan!!!!
Tak tahan melihat semuanya, akhirnya pikiranku berontak. Dia malu karena telah mengajakku melihat pemandangan yang menyakitkan itu. Di tengah kemegahan dan kemewahan kota, ternyata kota sangat kejam. Kemewahannya mampu menghapus dan menelan jerit anak kecil tadi. Menelan mentah mentah dan membuat tak ada lagi yang peduli padanya.
Aku terbangun. Mulutku terengah engah. Keringat mulai menetes mengalir membasahi dahiku. Mata ini mulai sembab. Dada ini terasa sesak. Sesak menanggung amarah dan beban yang terasa berat menimpaku. Mata anak kecil tadi sekilas menatapku, mata sang nelayan tadi terbayang dan menghunjam hatiku, mata sang ibu itu mengingatkanku akan makhluk mulia yang kasihnya untuk seorang anak tak pernah lekang dimakan waktu. Mereka seolah berkata, kami hanya ingin hidup kawan…kami ingin diberi kesempatan hidup…

wuiiih duooowone….
eh btw om….. jarene teno butuh jas? arep nggawe jasku ta? aku telpon ra nyambung2 makane tulis pesen anng kene