Ketika Pensil Anak-anak Itu Tidak Bergerak…

Judul diatas benar benar mengcopy dari judul sebuah artikel di Kompas,26 April 2008.
tapi isi artikel ini berbeda.Densus 88 AntiTeror Polda Sumut “berhasil” menggagalkan upaya “teror” dari Guru SMAN 2 Lubuk Pakam, Deli Serdang.
Diwarnai tembakan peringatan di institusi pendidikan, “teror” itu berhasil digagalkan. Upaya “teror” itu bernama “kecurangan” dalam ujian nasional, karena “terorisnya” yang biasa disebut guru berupaya membantu murid muridnya agar mereka lulus dalam UN kali ini.Guru2 tersebut mengkoreksi jawaban dalam soal bahasa inggris. 284 lembar jawaban disita oleh para Counter Terrorist tersebut.

“Kepala SMAN 2 Lubuk Pakam Ramlan Lubis mengakui kejadian itu. ”Kasihan siswa. Saat mengerjakan soal Bahasa Inggris, kami lihat pensil anak-anak itu tak bergerak, tanda tak bisa mengerjakan,” kata Ramlan dengan wajah menunduk. Wajah itu kusut, tetapi hampa.” (www.kompas.co.id)

spontan,air dari mata saya meleleh membentuk garis tipis yang mengkilat.pandangan saya kabur karena air itu menjadikan fokus saya bias..dada saya sesak seakan tertimpa monitor komputer yang sedang saya pandang. i did crying…

mari melihat dan mendengar dan merasa……

chapter 1
Soal UN sudah pasti sama.wong namanya aja Ujian Nasional. Dari Sabang sampai Merauke sampai balik lagi jelas sama. Pemerintah yang mendewakan namanya standarisasi menentukan nilai rata2 5,25 untuk syarat kelulusan dengan tidak ada nilai dibawah 4,25.

“Kebijakan ini diambil setelah kita mengadakan evaluasi hasil UN yang lalu, masukan dari daerah-daerah, dan sesuai amanah pemerintah agar selalu ada peningkatan yang signifikan,” kata Kepala Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Prof. Djemari Mardapi” ( www.tempointeraktif.com)

dengan tingkat kesulitan yang sama, diharapkan siswa punya kemampuan yang sama. dan lulus…

chapter 2
dengan soal dan tingkat kesulitan dan harapan yang sama..seharusnya lah semua ketersediaan sarana dan prasarana itu sama di setiap daerah. meskipun di pucuk gunung,di tepi laut,di dasar lembah,di padang rumput,di dalam gua..kalo ada sekolah maka ada sarana dan prasarana yang SAMA!!! ingat,logika standarisasi itu kan penyeragaman..
sebelum anak2 itu menjalani ujian…apakah pemerintah sudah memberikan hak mereka akan pendidikan yang layak??
apakah jumlah guru yang mampu mengajar sudah memadai? apakah sarana laboratoriun sudah mencukupi? apakah semua siswa mampu membeli buku paket? apakah siswa selalu bisa dievaluasi oleh guru dengan rutin?

Jumlah dan Kualifikasi Guru Tiap Propinsi ( contoh propinsi diambil secara random)

Propinsi PGSLP PGSLA Diploma3 Sarmud S1 S2 Total
D1 D2 Keguruan Non Keg. Non Keg. Non
Papua 72 108 388 111 207 65 2846 356 20 4173
DKI 492 220 1796 1203 1916 1537 21856 4226 701 33947
NAD 134 76 595 243 459 142 7868 701 47 10265
Jatim 1524 503 2207 911 3302 1393 49087 5418 1041 65386
Sultengg 87 39 318 95 115 64 3965 192 19 4,894
Bali 305 125 388 136 606 116 7635 468 90 9869
NTT 297 148 740 309 524 407 4309 859 39 7632
Sumut 991 588 3668 1150 2837 1218 23212 3583 190 37437
Jumlah Fasilitas
Propinsi Library Ketramp. Serbaguna UKS Praktek Komp Bengkel Total Siswa
Papua 39 6 5 5 2 12 n/a 69 30153
DKI 260 107 179 167 89 298 7 1,107 209615
NAD 38 9 10 6 2 9 1 75 86592
Jatim 476 213 229 344 62 369 28 1,721 451649
Sulteng 20 3 3 3 n/a 1 1 31 46867
Bali 81 34 11 14 8 39 1 188 74736
NTT 79 21 30 14 11 21 9 185 62729
Sumut 328 78 127 125 26 241 12 937 297365

http://www.sfeduresearch.org

data diatas dapat dilihat sebagai sampul dari kenyataan yang menyedihkan…apakah pemerintah sudah memenuhi kewajiban untuk pendidikan yang layak. Apakah sudah layak penyeragaman ini dipukul rata??realita yang sungguh ironis…

final chapter
sebagai pribadi saya menolak standarisasi nilai UN. Bahkan lebih dalam saya menolah arah pendidikan dan UN karena bagi saya semua itu hanyalah alat untuk memperlancar produksi massal dari kuli kuli industri.
Tapi saya akan mencoba kembali pada bahasan saya tadi, tentang guru yang mencoba membantu muridnya dalam mengerjakan soal UN.

Guru, adalah institusi pendidik. Dalam hal tersebut, tindakan guru tersebut saya pikir kurang tepat. Tapi,dibalik itu, ada nilai mulia yang dianut anut guru tersebut. Mereka peduli akan nasib dan masa depan muridnya. Dalam industrialisasi ini, sebagian besar “masa depan” ditentukan oleh selembar kertas dengan stempel bernama IJAZAH.Dan sangat banyak orang yang memandang bahwa ijazah adalah harus. Dalam kaca mata owner sebuah industri kapitalis, ijazah adalah sebuah standar nilai yang sangat mudah untuk dilihat dan dinilai. Dan anak bangsa ini sangat berharap ijazah akan membawa masa depan sebagai “kuli” akan membuat kehidupan yang lebih layak…
inilah realita pendidikan kita..
pemerintah perlu modal asing..investor butuh buruh..pemerintah menyediakan kuli..bangsa ini menjadi budak di tanahnya sendiri..dan ketika pensil anak anak tersebut tak bergerak,..guru guru tersebut menjadi korban sebuah sistem bernama standarisasi…

Dengan berbagai bentuk “kecurangan” yang terjadi pada prosesi Ujian Nasional pemerintah seharusnya berhenti budek dan picek ( tuli dan buta )!!apakah sistem ini sudah tepat atau belum..JANGAN JADI KUDA DONG!!!!

mereka dengan seenaknya membuat peraturan yang sangat sulit untuk dinalar akal sehat. dengan perbandingan kualitas guru, kuantitas prasarana, pemerintah seakan tidak membuka mata terhadap kesenjangan ini dan tetap memukul rata penyeragaman bernama Ujian Nasional. Dan pemerintah telah “memaksa” guru itu menjadi penjahat!!!!mereka “memaksa” siswa menjadi maling!!
sungguh menyedihkan..bangsa ini menyerahkan masa depan untuk menjadi kuli industri dalam waktu 3 hari dan beberapa mata pelajaran saja dan dengan satu lembar kertas bernama ijazah…

menyedihkan lagi..dalam kurikulum pendidikan mereka hanya dibekali rumus dan rumus dan hafalan..tanpa pernah kita diajari menjadi manusia merdeka dalam berpendapat, dalam berkeinginan..hanya monolog monolog dari para pengajar..
what a pathetic!!!

God..i love this country but I hate the government…

~ by Yandha Yudhian on April 27, 2008.

2 Responses to “Ketika Pensil Anak-anak Itu Tidak Bergerak…”

  1. Kenapakah tulisan ini sempat menghilang dan kemudian muncul lagi? Hwehehe

  2. datane sing ndukur iku ga ke display secara proporsional hwehe..makane dirubah maneh

Leave a Reply